Terima Kasih untuk waktu
Jemari ini menggiringku untuk
menuliskan sesuatu tentang apa yang sedang aku rasakan saat ini. Perasaan
dimana aku ingin menegaskan bahwa ternyata aku sudah baik-baik saja. Tentang
wanita yang selama ini terus membayangiku dengan mencoba bermain nakal dengan
ingatan tentang kenangan-kenangan indah yang pernah aku lewati bersamanya.
Seseorang yang menjadi alasanku untuk tetap tersenyum.
Namun akhirnya harus aku relakan
semua terlewati tanpa pesan ketika dia memutuskan untuk meninggalkanku demi
bahagianya bersama yang lain. Waktu itu begitu terlalu membungkamku dengan
penuh kesesakan dalam hati yang harus aku baluti dengan senyum sepanjang hari.
Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa ini adalah proses pendewasaan diri dengan
menerima semua yang terjadi tanpa tawaran untuk membaikan perasaanku waktu itu.
Jujur, sampai saat ini perasaan itu tetap ada meskipun sudah berbeda. Dengan
menganggapmu bukan siapa-siapa lagi semua kembli seperti semula tanpa dendam.
Sudah selayaknya aku bersyukur
dengan melewatinya seperti ini memberikanku tentang dunia baru bahwa pada
kenyataanya ada hal yang jauh lebih berarti dari pada terus menerus membiarkan
waktu menguras pikiranku tanpa izin yaitu cinta. Ternyata membuka hati untuk
cinta membuat aku mengerti arti bersyukur sesungguhnya. Seperti sedang
merasakan kegembiraa penuh senyum saat berjalan dengan ditemani rintikan air
hujan menari-nari ditengah gemercik lagu hujan. Dan aku dapat berkata dengan tersenyum “Terima kasih Tuhan untuk
waktu itu”.
Tangerang, 17 Juni 2015 02:37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar