Menyatakan perasaan adalah perihal pilihan. Begitu juga untuk tetap memendamnya juga merupakan sebuah pilihan. Alasannya pun bisa berbeda-beda.
Namun jika itu terjadi padaku, seseorang yang sudah terlanjur jatuh hati padamu maka akan kutetapkan pilihanku untuk dapat aku menyatakannya padamu. Yah, akulah yang jatuh hati padamu.
Manusia memang diberi kebebasan hak untuk memilih namun sudah tentu manusia tidak bisa menawar dengan gampang ingin seperti apa konsekuensi terhadap pilihannya.
Jika pada akhirnya keputusanku adalah padamu tentu saja aku harus menerima resiko dan konsekuensinya.
Di tolak, bukan merupakan hal yang buruk untuk dapat diterima. Barangkali dengan penolakannya aku harus intropeksi diri mengenai diriku sendiri, keadaan seperti apakah diriku yang memutuskannya untuk tidak menerimaku.
Di terima, bukan lantas aku bereaksi seperti orang jagoan pasar yang seolah-olah sedang menerima sebuah hadiah undian besar. Dan memamerkan kepada orang ramai. Bersyukurlah bahwa niatanku untuk memperjuangkannya merebut hatinya ternyata tidak sia-sia dan sesegera mungkin untuk mengupayakan yang lebih baik sebagai pasangannya.
Namun jika pada akhirnya digantung -bukan juga konsekuensi terburuk- atas keputusannya. Barangkali dia memang belum siap untuk menata hatinya bersamamu. Walaupun tak jarang pula bahwa seperti ini dimiliki oleh orang-orang peragu.
Dari ketiga dugaan itu sudah sepantasnya dan memang haruslah kita tetap mensyukurinya. Dan berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk diri sendiri dan pasangan. Agar ketika keputusan yang dia berikan sedikit mengecewakan maka kita dapat lebih bijak untuk menerimanya.
Petrus 16/08/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar